SENTAWA-Di sebuah daerah kecil, warga tak pernah bingung menghafal nama pejabat. Soalnya, namanya itu-itu saja, cuma panggilannya yang berganti.

Dulu dipanggil “Pak”, sekarang “Mas”, besok mungkin “Adik”.
Setiap lima tahun sekali, baliho baru bermunculan.

Warnanya berbeda, slogannya makin modern, tapi senyumnya familiar.

“Wajah baru, semangat baru!” tulis baliho itu.
Warga mengangguk pelan. “Iya, baru… bagi cucunya.”
Dalam debat publik, sang calon selalu bilang, “Saya maju bukan karena keluarga, tapi karena panggilan hati.”

Warga makin yakin saat di panggung duduk ayahnya, ibunya, pamannya, mertuanya, lengkap seperti acara hajatan.

Setelah terpilih, program kerjanya terdengar ambisius.

“Melanjutkan yang sudah baik, menyempurnakan yang belum selesai.”

Padahal yang dilanjutkan itu termasuk kursi kerja, staf lama, dan kebiasaan lama.

Kalau ada warga bertanya soal dinasti politik, jawabannya selalu diplomatis.

“Semua ini pilihan rakyat.”
Benar juga. Rakyat memang memilih—di antara pilihan yang masih satu keluarga.

Akhirnya warga sadar, di daerah itu demokrasi tetap hidup.

Ada pemilu, ada kampanye, ada janji. Hanya saja, pergantian kekuasaan lebih mirip arisan keluarga: giliran saja yang berpindah tangan.

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *