Di sebuah gang sempit bernama Jalan Aman Sentosa, hiduplah seorang Ketua RT yang sangat rajin—terutama rajin muncul di foto. Namanya Pak Rukun, orang yang selalu berkata, “Saya ini hanya pelayan masyarakat.” Kalimat itu ia ucapkan sambil berdiri di depan spanduk baru yang entah kenapa selalu berganti setiap bulan.

 

Warga heran. Dana RT yang katanya untuk perbaikan selokan tak pernah benar-benar sampai ke selokan. Air tetap menggenang, nyamuk tetap pesta, tapi Pak Rukun justru semakin sering rapat. Bukan rapat RT, melainkan rapat “konsolidasi”. Katanya demi masa depan lingkungan.

 

Suatu hari, bendahara RT memberanikan diri bertanya,

 

“Pak, ini kuitansi pembelian jaket partai masuk ke laporan kas RT?”

 

Pak Rukun tersenyum bijak.

“Itu bukan jaket partai. Itu seragam kebersamaan. Kita harus kompak sebagai warga yang… sadar politik.”

 

Warga mulai curiga ketika pos ronda dicat warna yang sama dengan baliho calon tertentu. Ketika ditanya, Pak Rukun menjawab santai,

 

“Warna ini melambangkan harapan. Kebetulan harapannya sama.”

 

Dana konsumsi kerja bakti juga misterius. Kerja baktinya satu jam, tapi laporannya seolah seminggu penuh. Snack tak pernah datang, tapi foto dokumentasi selalu lengkap—lengkap dengan Pak Rukun di tengah, tangan terangkat, senyum paling depan.

 

Menjelang pemilihan, Pak Rukun semakin sering berpidato. Bukan soal sampah atau keamanan, tapi soal “pilihan cerdas demi lingkungan”. Ia membagikan kalender, kaos, dan janji. Semua dicatat rapi sebagai “kegiatan sosial RT”.

 

Warga akhirnya paham. Dana RT bukan hilang, hanya berpindah peran. Dari kas lingkungan menjadi modal pencitraan. Dari uang bersama menjadi kepentingan pribadi—dengan stempel: demi masyarakat.

 

Ironisnya, setelah pemilihan usai, Pak Rukun kembali menjadi pelayan. Pelayan baliho baru, tentu saja.

 

Selokan tetap banjir. Tapi setidaknya, warga sudah belajar satu hal:

bukan semua yang mengatasnamakan masyarakat benar-benar bekerja untuk masyarakat.

Loading