Pak RT Sumarno terkenal sebagai pemimpin berwibawa.
Bukan karena pidatonya panjang, tapi karena kumisnya.
Kumis itu tebal, simetris, dan selalu rapi. Warga bilang, selama kumis Pak RT lurus, kebijakan juga lurus. Kalau kumisnya miring, biasanya keputusan ikut belok.
Suatu hari, rapat penting digelar. Banyak agenda: jalan rusak, iuran, dan janji lama yang belum selesai.
Pak RT membuka rapat dengan suara berat,
“Semua keputusan malam ini demi kepentingan warga.”
Kumisnya mengkilap.
Saat warga mulai menyampaikan keluhan, kumis Pak RT pelan-pelan bergerak.
Bukan karena angin… tapi karena Pak RT mengangguk ke arah tertentu.
Usulan dari barisan depan langsung dicatat.
Usulan dari belakang… menguap di udara.
Seorang warga berbisik, “Pak RT dengarnya pakai telinga apa kumis?”
Pak RT menutup rapat dengan senyum.
“Tenang, semua aspirasi sudah saya tampung.”
Benar saja.
Keesokan harinya, papan pengumuman dipasang:
“Keputusan RT telah disepakati bersama.”
Tak ada yang merasa diajak sepakat.
Warga akhirnya paham,
di kampung itu, arah kebijakan bukan ditentukan suara terbanyak…
tapi ke mana kumis mengarah
![]()


